• Bahasa Indonesia
  • English
  • Deutsch

Kementerian Pariwisata Dukung Pariwisata Yang Seimbang Dan Berkelanjutan

 

BALI, 8 November 2017- Dalam rangka mendukung pembangunan kepariwisataan yang seimbang dan berkelanjutan sebagaimana telah diamanatkan Menteri Pariwisata melalui Peraturan Menteri Pariwisata Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2016 Tentang Pedoman Destinasi Pariwisata Berkelanjutan, Deputi Pengembangan Destinasi dan Industri Pariwiasta melalui salah satu unit teknisnya yaitu Asisten Deputi Pengembangan Infrastruktur dan Ekosistem Pariwisata telah melaksanakan kegiatan Tourism Planning Forum – Tourism Design and Prototype Conference Tahun 2017. Acara yang diselenggarakan di Sanur, Bali pada tanggal 8 dan 9 November ini merupakan langkah Kementerian Pariwisata untuk mempertemukan para pakar pariwisata, perencana, desainer, ahli landscape, pengembang, pengusaha, dan budayawan untuk bersama membahas isu-isu pariwisata dan permasalahannya dalam rangka mendukung pembangunan pariwisata yang seimbang dan berkelanjutan.

Mengangkat tema “Sustainable Tourism”, Kementerian Pariwisata memperhatikan bahwa banyak pihak yang berkiprah pada area ini dan telah menunjukan keberhasilan dalam mengembangkan suatu kawasan pariwisata mengusung keberlanjutan.

Acara ini diadakan juga sekaligus untuk menjawab tantangan dan kebutuhan dalam penguatan dan pembangunan kepariwisataan yang harus bertumpu pada keanekaragaman, keunikan dan kekhasan budaya dan alam dengan tidak mengabaikan kebutuhan masa yang akan datang, sehingga diharapkan mendorong pertumbuhan ekonomi yang membawa manfaat pada kesejahteraan masyarakat.

Peserta yang akan mengikuti konferensi ini adalah Pemerintah Daerah, Pelaku Industri, Masyarakat, Akademisi dan Media. Untuk pihak pemerintah daerah, dikhususkan kepada Dinas Pariwisata di 10 Destinasi Pariwisata Prioritas (DPP), dan penerima program Sustainable Tourism Observatory (STO).

Menurut Asisten Deputi Pengembangan Infrastruktur dan Ekosistem Pariwisata, Frans Teguh, bahwa pengalaman dari para perancana dalam merencanakan pengembangan kawasan pariwisata, serta pengalaman dari para desainer dalam merancang pengembangan dan penataan fasilitas di kawasan pariwisata diharapkan dapat menjadi bekal bagi seluruh stakeholder pariwisata. Best practice yang diaplikasikan oleh para pakar tentunya dapat memperkaya pengetahuan akan bagaimana suatu pengembangan pariwisata dilaksanakan.

“Diharapkan pada konferensi tersebut dapat terjalin pertukaran informasi best practice dan bentuk perencanaan-desain-prototipe yang dapat menjadi collective model untuk pengembangan destinasi pariwisata,” kata Frans.

Sejalan dengan pernyataan Asisten Deputi Pengembangan Infrastruktur dan Ekosistem Pariwisata tersebut, secara umum hasil yang diharapkan dari terselenggaranya acara Tourism Planning Forum – Tourism Design and Prototype Conference adalah:

a. Knowledge Management di bidang planning, design, construction, landscape, arsitektur dan manajemen di sektor pariwisata

b. Penguatan visioning coverage di destinasi pariwisata, khususnya pada Destinasi Pariwisata Prioritas.

c. Dihasilkannya bisnis model yang dapat menginspirasi planning, design, construction, landscape, arsitektur dan manajemen. Atau sebaliknya

d. Menjadi input bahan/materi untuk memperkaya penyusunan draft pedoman/guideline pembangunan pada sektor pariwisata yang menerapkan aplikasi untuk design, arsitektur, landscape, planning dan sebagainya.

Pada tahun 2016, performasi atau index daya saing pariwisata Indonesia dalam Travel and Tourism Competitiveness Report yang dikeluarkan oleh World Economic Forum menduduki peringkat 50 dari 141 negara, membaik 20 tingkat dari posisi sebelumnya yang berada pada urutan ke 70. Dan berusaha untuk menduduki tingkat ke 30 pada tahun 2019.

Kementerian Pariwisata memperkuat komitmennya untuk terus meningkatkan performansi pembangunan kepariwisataan nasional. Salahsatunya melalui pendekatan pengembangan kawasan pariwisata. Hal ini merupakan amanat dalam UU No. 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan dan PP No. 50 Tahun 2011 tentang Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Nasional (RIPPARNAS) yang di dalamnya terdapat komponen 50 Destinasi Pariwisata Nasional (DPN), 88 Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) dan 222 Kawasan Pengembangan Pariwisata Nasional (KPPN). (Sumber: Press Release Team Kemenpar)

 

Design & Development by Teramatics
Clicky Web Analytics