• Bahasa Indonesia
  • English
  • Deutsch

Pasar Kerja Sama Barlingmascakeb

PELAKSANAAN pasar lelang forward komoditas agroregional manajemen Barlingmascakeb (Banjarnegara, Purbalingga, Banyumas, Cilacap, dan Ke- bumen) periode XV pada Rabu, 15 Juli 2009 telah berhasil membukukan transaksi sebesar Rp 18,764 miliar.  

Transaksi tersebut di antaranya beras, jagung, cengkeh, kopi, gula kelapa, kentang, cabe, sayur-mayur, empon-empon, kacang tanah, kopra, minyak goreng, gabah, kencur dan kotoran kambing (bribil).  

Pembeli datang dari Jakarta, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Pekalongan, Pontianak, Makasar, Pemalang dan Indramayu. Rencananya Pasar Lelang ke depan akan menghadirkan pembeli dari luar negeri.

Pelaksanaan pasar lelang komoditas agro Barlingmascakeb saya rintis pada 2004 ketika saya menjabat sebagai Regional Manager. Awalnya hanya mentransaksikan beras, gula kelapa, dan sayur mayur. Rintisan awal, selama empat kali mengadakan pasar lelang agro, transaksi yang dibukukan hanya Rp 16,2 miliar. Namun pada pelaksanaan satu kali pasar lelang saat ini mampu membukukan Rp 18,76 miliar.

Dan yang lebih menarik telah ditransaksikan kotoran kambing (bribil) mencapai Rp 500 juta. Ini berarti, selama lima tahun pelaksanaan pasar lelang komoditas agro telah memberikan kemajuan hasil yang berarti.

Model pasar lelang komoditas agro yang dilaksanakan kiranya dapat dijadikan contoh lembaga kerja sama antardaerah lainnya di Jawa Tengah, misalnya wilayah pantura, bersama Sapta Mitra Pantura (Kota Pekalongan, Tegal, Kabupaten Tegal, Pekalongan, Batang, Brebes, dan Pemalang), wilayah Solo, melalui Subosukowonosraten (Kota Solo, Kabupaten Boyolali, Sukoarjo, Wonogiri, Sragen dan Klaten).

Model tersebut cocok untuk diterapkan di lembaga kerja sama di Jawa Tengah, dengan alasan sebagai implementasi dari semboyan Gubernur. Mbangun desa dimaksudkan pemberdayaan petani melalui pengembangan jaringan pasar untuk komoditas agro.  

Jaringan Pasar Pengembangan jaringan pasar dapat dimulai dari pasar lelang. Pasar lelang adalah tempat bertemu penjual dan pembeli untuk melakukan transaksi dengan sistem lelang. Lelang dilakukan dengan sistem terbuka, yaitu cara penawaran dilakukan secara langsung, lisan, dan terbuka sehingga mekanisme pembentukan harga dilaksanakan secara transparan.

Dalam pasar lelang menggunakan perdagangan beli di muka (forward trading), yaitu perjanjian jual beli komoditas dalam jumlah, mutu, dan tempat penyerahan tertentu. Penyerahan barang secara fisik dilakukan di kemudian hari dan harga komoditas akan terbentuk jauh hari sebelum panen. Petani akan memperoleh kepastian harga sebelum panen, sehingga risiko rugi akibat harga jatuh pada saat panen dapat dikurangi (hedging).

Pengembangan jaringan pasar selanjutnya melalui pembangunan pasar induk yang bertujuan mempertemukan secara fisik antara penjual lokal dengan pembeli antarkota maupun antarprovinsi dalam kuantitas/ jumlah yang besar. Pasar induk ini akan lebih efektif jika dapat memasarkan potensi lokal dari beberapa kabupaten/ kota di sekitarnya.
Pengembangan Lanjutan Secara umum potensi unggulan daerah di Jawa Tengah pada umumnya pertanian, perkebunan, perikanan, kerajinan, pertambangan, industri makanan serta pariwisata.  

Namun potensi unggulan tersebut saat ini belum terakses ke pasar dengan baik. Hal ini disebabkan belum optimalnya dukungan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dan terbatasnya sumber daya manusia di daerah, terutama pada aspek pendanaan, teknologi produksi, pengemasan dan akses pasar.  

Pengertian pasar pada umumnya adalah suatu tempat untuk menstimulus dan menunjang proses tukar-menukar antara kepentingan permintaan dan penawaran. Dalam terminologi pasar sendiri terbagi menjadi dua, yaitu, pasar komersial yang bertujuan meningkatkan keuntungan dan pasar nonprofit, yang bertujuan meningkatkan efisiensi.

Namun karena konsep pasar kerjasama antardaerah lebih mengarah pada perolehan keuntungan jangka panjang melalui efisiensi, maka konsep pasar pada kerjasama antardaerah ditujukan pada perbaikan kondisi perekonomian regional secara menyeluruh.

Konsep pasar kerjasama antardaerah diharapkan dapat memposisikan daerah dalam perekonomian yang semakin dinamis dalam perkembangan dunia usaha. Beberapa manfaat pasar kerjasama antar daerah, diantaranya:

Menciptakan keistimewaan atau keunikan; Menciptakan transparansi dalam pengambilan keputusan; Mengarahkan aktivitas berorientasi pasar; Melembagakan konsensus dalam kesatuan platform; Mengarahkan pertimbangan lokasional bagi investasi.

Pasar kerja sama antardaerah pada hakikatnya merupakan sarana untuk menciptakan konsep inovatif dalam rangka meningkatkan, mempertahankan, dan mengembangkan kekuatan perekonomian daerah dalam satu wadah kerja sama pembangunan antardaerah.

Pasar kerja sama antar daerah juga dapat diartikan sebagai instrumen untuk mengatur dan mengaplikasikan proses potensi daerah dalam batas-batas otoritas tertentu yang dilakukan bersama unsur-unsur lokal terkait.  

Upaya penguatan yang dimaksud pada umumnya menyangkut aspek ekonomi, citra, dan identitas daerah. Secara khusus pasar kerja sama antardaerah menitikberatkan pada perbaikan kemampuan bersaing dalam menarik investasi (competitive advantage).

Oleh karena itu keberhasilan pasar kerjasama antardaerah dapat diukur dari peningkatan perekonomian daerah yang ditandai dengan pertumbuhan jumlah dan nilai investasi. Aplikasi lebih jauh adalah tercapainya efisiensi dalam pemanfaatan sinergi. (80)
 
––– Dr H Restyarto Efiawan, Direktur Komunikasi LEKAD (Lembaga Pengembangan dan Pemberdayaan Kerja Sama Antar Daerah) ––– 
 
Sumber: Suara Merdeka, 18 Juli 2009

 

 

Design & Development by Teramatics
Clicky Web Analytics