• Bahasa Indonesia
  • English
  • Deutsch

Saatnya Membangun Kapasitas Kerja Sama Daerah Untuk Melakukan Lompatan Pembangunan

Aspek daya saing saat ini tidak dapat dipisahkan dari kemampuan daerah menciptakan sinergitas dari potensi yang dimilikinya dengan daerah lain di sekitarnya, sehingga tercipta sebuah daya saing secara kewilayahan. Dalam persaingan global, daya saing saing daerah (kabupaten/kota) tidak berdiri sendiri tanpa memberdayakan kekuatan daya saing dalam konteks kewilayahan. Hal ini dipastikan, karena mengingat setiap daerah memiliki berbagai keterbatasan. Namun melalui kerja sama antardaerah (KAD), maka berbagai dampak penguatan melalui sinergitas berupa efisiensi, komplementaritas, dan optimasi pelayanan publik dan pembangunan dapat diwujudkan. Walaupun banyak daerah yang mulai menyadari arti strategis pemanfaatan kerja sama daerah (KSD), namun masih ditemui banyak kendala kapasitas pemanfaatannya di lapangan. Hal ini terungkap dalam diskusi pada rakor II Kementerian Dalam Negeri yang membahas aspek Monev KSD, yaitu Penyusunan Tools Penilaian Kapasitas KSD dan Identifikasi Potensi KAD kewilayahan di hotel IBIS pada tanggal 12 Maret 2019 di Jakarta. Rakor yang dibuka oleh Drs. Yusri Tahir , M.Si. yang mewakili Direktur Direktorat Dekonsentrasi, Tugas Pembantuan dan Kerjasama Daerah, diselenggarakan dengan dukungan NSLIC/NSLRED (National Support for Local Investment Climate/National Support for Local and Regional Economic Development) diikuti oleh sekitar 42 perwakilan unsur OPD dari pemerintah provinsi dan kabupaten/kota yang membidangi KSD. Setelah melakukan simulasi pada kedua tools tersebut disimpulkan, bahwa setiap daerah dipandang perlu untuk segera memanfaatkan tools ini dalam rangka memotret kapasitas KSD dan agar setiap daerah memiliki kemampuan untuk melakukan identifikasi potensi KSD, khususnya dalam konteks KAD kewilayahan dengan benar. Tools identifikasi potensi KAD juga patut digunakan untuk wilayah KAD yang sedang berjalan dalam rangka memvalidasi seluruh bidang kerja sama yang telah disepakati. Melalui tools ini akan terlihat isu-isu (obyek KSD) yang sesungguhnya mendukung dan tidak mendukung KSD. Perencanaan masa lalu terkendala dengan kemampuan daerah untuk memperoleh faktor perekat yang saling menguntungkan bagi setiap daerah yang bekerjasama sehingga banyak KSD yang berhenti pada tatanan MOU. Melalui pemanfaatan tools ini diharapkan permasalahan klasik seperti itu tidak terulang kembali.    


Natalis Padang selaku Senior Manager LRED dalam sambutannya menggarisbawahi komitmen NSLIC/NSLRED untuk mendukung iklim usaha yang kondusif dan penguatan pembangunan ekonomi lokal/regional di daerah, khususnya di provinsi Gorontalo dan Sulawesi Tenggara sebagai wilayah kerjanya. Saat ini NSLIC/NSLRED semakin memperkuat dukungannya terkait pemberdayaan perempuan yang dalam konteks pembangunan ekonomi wilayah semakin mendapat perhatian. Ke depan diharapkan diseminasi berbagai intrumen perencanaan dan modul-modul terkait KSD dan LRED lainnya dapat diberikan berdasarkan pengalaman pemanfaatannya di wilayah kerja NSLIC/NSLRED di berbagai daerah dengan semakin mempererat koordinasi dengan Kementerian Dalam Negeri dan K/L lainnya.

Melalui hasil pemotretan kapasitas KSD, maka diharapkan setiap daerah dapat melihat secara jernih komponen apa saja yang harus menjadi perhatian ke depan. Potret kapasitas KSD juga sangat dibutuhkan untuk mengidentifikasi kebutuhan intervensi pusat. Dengan demikian, seluruh dukungan pusat (baca: K/L) akan lebih berjalan efektif dan efisien serta tepat guna/sasaran sesuai kebutuhan penguatan kapasitas di daerah masing-masing. Tools ini dapat diselenggarakan melalui forum rakor TKKSD, dimana setiap unsur terkait di daerah dapat memberikan input penilaian (self assessment) secara obyektif untuk kemudian ditampilkan dan dibahas bersama. Di sisi lain, tools identifikasi potensi KAD perlu dikuasai oleh unsur-unsur yang membidangi KSD pada OPD di setiap daerah. Hal ini dapat dilakukan melalui kegiatan penguatan kapasitas berbentuk workshop, FGD atau rapat koordinasi dengan tema penguatan perencanaan KSD.  

Pada kesempatan diskusi Sekda Kabupaten Sorong Selatan (Sorsel) Dance Y. Flassy (foto: tengah) menyampaikan harapannya untuk dapat bersama Kemendagri mendorong KAD di wilayah Papua Barat, khususnya melalui inisiasi KAD Sorong Raya (Kabupaten Sorong, Sorong Selatan (Sorsel), Raja Ampat, Maybrat, Tambrauw dan Kota Sorong). Sekda Sorsel telah melakukan langkah-langkah komunikasi awal untuk mengambil terobosan pembangunan kewilayahan strategis ini. Sudah saatnya daerah mengesampingkan ego-daerah dan menghimpun kekuatan pembangunan kewilayahan bersama-sama untuk melakukan lompatan pembangunan. (M. Hidayatullah/12/03/2019)      

 

Design & Development by Teramatics
Clicky Web Analytics